Tuesday, 23 September 2014

Blok filsafat 3rd Meet on 18th September 2014



Kali ini saya akan menulis sedikit materi perkuliahan saya hari ketiga yaitu tanggal 18 september 2014 mengenai Epistemologi dan Kebenaran. Semoga bisa bermanfaat ya!

Epistemologi


Definisi Epistemologi

Epistemologi (filsafat ilmu) adalah pengetahuan sistematik mengenai pengetahuan. Epistemologi merupakan salah satu objek kajian dalam filsafat, dalam pengembangannya menunjukkan bahwa epistemologi secara langsung berhubungan secara radikal (mendalam) dengan diri dan kehidupan manusia. Pokok kajian epistemologi akan sangat menonjol bila dikaitan dengan pembahasan mengenai hakekat epistemologi itu sendiri.Secara linguistic kata “Epistemologi” berasal dari bahasa Yunani yaitu: kata “Episteme” dengan arti pengetahuan dan kata “Logos” berarti teori, uraian, atau alasan. Epistemologi dapat diartikan sebagai teori tentang pengetahuan yang dalam bahasa Inggris dipergunakan istilah theory of knowledge.Istilah epistemologi secara etimologis diartikan sebagai teori pengetahuan yang benar dan dalam bahasa Indonesia lazim disebut filsafat pengetahuan. Secara terminologi epistemologi adalah teori mengenai hakikat ilmu pengetahuan atau ilmu filsafat tentang pengetahuan.

Metode-metode untuk memperoleh pengetahuan
a. Empirisme
Empirisme adalah suatu cara/metode dalam filsafat yang mendasarkan cara memperoleh pengetahuan dengan melalui pengalaman. John Locke, bapak empirisme Britania, mengatakan bahwa pada waktu manusia di lahirkan akalnya merupakan jenis catatan yang kosong (tabula rasa),dan di dalam buku catatan itulah dicatat pengalaman-pengalaman inderawi. Menurut Locke, seluruh sisa pengetahuan kita diperoleh dengan jalan menggunakan serta memperbandingkan ide-ide yang diperoleh dari penginderaan serta refleksi yang pertama-pertama dan sederhana tersebut.
Ia memandang akal sebagai sejenis tempat penampungan,yang secara pasif menerima hasil-hasil penginderaan tersebut. Ini berarti semua pengetahuan kita betapapun rumitnya dapat dilacak kembali sampai kepada pengalaman-pengalaman inderawi yang pertama-tama, yang dapat diibaratkan sebagai atom-atom yang menyusun objek-objek material. Apa yang tidak dapat atau tidak perlu di lacak kembali secara demikian itu bukanlah pengetahuan, atau setidak-tidaknya bukanlah pengetahuan mengenai hal-hal yang factual.

b. Rasionalisme
Rasionalisme berpendirian bahwa sumber pengetahuan terletak pada akal. Bukan karena rasionalisme mengingkari nilai pengalaman, melainkan pengalaman paling-paling dipandang sebagai sejenis perangsang bagi pikiran. Para penganut rasionalisme yakin bahwa kebenaran dan kesesatan terletak di dalam ide kita, dan bukannya di dalam diri barang sesuatu. Jika kebenaran mengandung makna mempunyai ide yang sesuai dengan atau menunjuk kepada kenyataan, maka kebenaran hanya dapat ada di dalam pikiran kita dan hanya dapat diperoleh dengan akal budi saja.

c. Fenomenalisme
Bapak Fenomenalisme adalah Immanuel Kant. Kant membuat uraian tentang pengalaman. Barang sesuatu sebagaimana terdapat dalam dirinya sendiri merangsang alat inderawi kita dan diterima oleh akal kita dalam bentuk-bentuk pengalaman dan disusun secara sistematis dengan jalan penalaran. Karena itu kita tidak pernah mempunyai pengetahuan tentang barang sesuatu seperti keadaannya sendiri, melainkan hanya tentang sesuatu seperti yang menampak kepada kita, artinya, pengetahuan tentang gejala (Phenomenon).
Bagi Kant para penganut empirisme benar bila berpendapat bahwa semua pengetahuan didasarkan pada pengalaman-meskipun benar hanya untuk sebagian. Tetapi para penganut rasionalisme juga benar, karena akal memaksakan bentuk-bentuknya sendiri terhadap barang sesuatu serta pengalaman.
d. Intusionisme
Menurut Bergson, intuisi adalah suatu sarana untuk mengetahui secara langsung dan seketika. Analisa, atau pengetahuan yang diperoleh dengan jalan pelukisan, tidak akan dapat menggantikan hasil pengenalan secara langsung dari pengetahuan intuitif.

Salah satu di antara unsur-unsur yang berharga dalam intuisionisme Bergson ialah, paham ini memungkinkan adanya suatu bentuk pengalaman di samping pengalaman yang dihayati oleh indera. Dengan demikian data yang dihasilkannya dapat merupakan bahan tambahan bagi pengetahuan di samping pengetahuan yang dihasilkan oleh penginderaan. Kant masih tetap benar dengan mengatakan bahwa pengetahuan didasarkan pada pengalaman, tetapi dengan demikian pengalaman harus meliputi baik pengalaman inderawi maupun pengalaman intuitif.

Hendaknya diingat, intusionisme tidak mengingkati nilai pengalaman inderawi yang biasa dan pengetahuan yang disimpulkan darinya. Intusionisme – setidak-tidaknya dalam beberapa bentuk-hanya mengatakan bahwa pengetahuan yang lengkap di peroleh melalui intuisi, sebagai lawan dari pengetahuan yang nisbi-yang meliputi sebagian saja-yang diberikan oleh analisis. Ada yang berpendirian bahwa apa yang diberikan oleh indera hanyalah apa yang menampak belaka, sebagai lawan dari apa yang diberikan oleh intuisi, yaitu kenyataan. Mereka mengatakan, barang sesuatu tidak pernah merupakan sesuatu seperti yang menampak kepada kita, dan hanya intuisilah yang dapat menyingkapkan kepada kita keadaanya yang senyatanya.

e. Dialektis
Yaitu tahap logika yang mengajarkan kaidah-kaidah dan metode penuturan serta analisis sistematik tentang ide-ide untuk mencapai apa yang terkandung dalam pandangan. Dalam kehidupan sehari-hari dialektika berarti kecakapan untuk melekukan perdebatan. Dalam teori pengetahuan ini merupakan bentuk pemikiran yang tidak tersusun dari satu pikiran tetapi pemikiran itu seperti dalam percakapan, bertolak paling kurang dua kutub

Sifat Epistemologi

Secara kritis, mempertanyakan/menguji cara kerja,pendekatan, kesimpulan yg ditarik dlm kegiatan kognitif manusia 
Secara normatif, menentukan tolok ukur/norma penalaran tt kebenaran pengetahuan
Secara evaluatif, menilai apakah suatu keyakinan,pendapat suatu teori pength dapat dipertanggungjawabkan dan dijamin kebenarannya secara logis dan akurat

 Dasar dan Sumber Pengetahuan

1. pengalaman manusia
2. ingatan (memory)
3. Penegasan tapa yang diobservasi (  
             kesaksian )
4. Minat dan rasa ingin tahu
5. Pikiran dan penalaran
6. Logika berpikir tepat dan logis
7. Bahasa ekspresi pemikiran manusia melalui
             ujaran / tulisan
8. Kebutuhan hidup manusia à mendorong
             terciptanya iptek

 Struktur Ilmu Pengetahuan

Adanya  2 kutub yaitu
A. kesadaran / subjek ( S ) berperan sebagai yg menyadari / mengetahui
B. objek (O) berperan sebagai yg disadari / diketahui
Hubungan antara  S dan O menghasilkan pengetahua n 

 Teori Kebenaran dalam pengetahuan

a.Teori kebenaran korespondensi
b.Teori kebenaran koherensi
c.Teori kebenaran pragmatik
d.Teori kebenaran konsensus
e.Teori kebenaran semantik

Kebenaran

Kebenaran sebagai sifat pengetahuan disebut kebenaran epistemologis. Lawan dari kebenaran adalah salah. Secara umum kebenaran biasanya dimengerti sebagai kesesuaian antara apa yang dipikirkan dan atau dinyatakan dengan kenyataan yang sesungguhnya. Dalam bahasa Yunani kebenaran adalah aletheia. 

Menurut Plato, bahwa kebenaran sebagai ketidaktersembunyian adanya itu tidak dapat dicaai manusia selama hidupnya di dunia ini. Sedangkan menurut Aristoteles, kebenaran lebih musatkan perhatian pada kualitas pernyataan yang dibuat oleh subyek ketika dirinya menegaskan suatu putusan entah secara afirmatif atau negatif. Dalam hal ini kebenaran dimengerti sebagai kesesuaian antara subyek dn objek yang diketahui.

Menurut kaum Positivisme logis bahwa kebenaran terdiri dari dua yaitu
a. kebenaran faktual
kebenaran faktual sebagai kebenaran yang menambah pengetahuan kita tentang semesta alam yang dapat kita alami secara inderawi
b. kebenaran nalar
kebenaran nalar adalah kebenaran yang bersifat tautalogis atau pengulangan gagasan dan tidak menambah pengetahuan baru tetapi dapat menjadi sarana yang berguna untuk memperoleh pengetahuan yang benar di dunia ini.

menurut Thomas Quinas kebenaran dibagi menjadi dua yaitu :
a. kebenaran Ontologis
yaitu kebenaran yang terdapat dalam kenyataan entah siritual atau material yang meskipun ada kemungkinan untuk diketahui.
b. kebenaran Logis
yaitu kebenaran yang terdapat dalam akal budi manusia dalam bentuk adanya kesesuaian antara akal budi dengan kenyataan.

Kedudukan Kebenaran
a. Dalam pandangan Platonis
lebih diletakkan dalam obyek atau kenyataan yang diketahui
b. Dalam pandangan Aridtotelian
Diletakkan dalam subyek yang diketahui

Sedangkan Kaum Eksistensial menyatakan bahwa kebenaran eksistensial merupakan apa yang secara pribadi berharga bagi subyek konkrit yang bersangkutan untuk dipegang teguh dengan penih kesetiaan.

Kesahihan dan kekeliruan
Kekeliruan adalah segala sesuatu yang menyangkut tindakan kognitif subyek penahu sedangkan kesalahan hasil dari tindakan tersebut. Kekeliruan muncul akibat kegagalan dalam mengidentifikasi bukti yang tepat. kekeliruan dapat dikarenakan gegabah dalam menegaskan keputusan tentang suatu masalah.


Sumber :

Buku Pembelajaran KBK Filsafat Blok Filsafat Universitas Tarumanagara

Media powerpoint kbk filsafat Universitas Tarumanagara

http://id.wikipedia.org/wiki/Epistemologi

http://filsafat.kompasiana.com/2011/05/16/epistemologi-364351.html





2 comments: