Monday, 22 September 2014

Blok Filsafat 2nd meet on September 16 September 2014


Pencabangan Filsafat

This is Ega again! Kali ini saya akan menyampaikan materi perkuliahan saya hari ke-2 mengenai pencabangan filsafat yaitu metafisika dan aksiologi. Selengkapnya, silakan dibaca ya, enjoy guys:)

I Metafisika

Definisi Metafisika

Secara etimologi, metafisika berarti meta (sesudah) dan physika  fisika, jadi metafisika adalah sesudah fisika. Aristoteles sendiri menyebut filsafat pertama (metafisika) dan filsafat kedua (fisika). Metafisika adalah pembahasan filsafati yang komprenhensif mengenai seluruh realita atau segala sesuatu yang ada.

Metafisika adalah suatu pembahasan filsafati yang komprehensif mengenai seluruh realitas atau tentang segala sesuatu yang ada. Ia bersangkut paut dengan pertanyaan mengenai hakekat 'yang-ada' yang terdalam. Menurut Bagus (2000: 624-625), metafisika memiliki beberapa pengertian, yakni: 

(1) kajian menyeluruh, koheren dan konsisten tentang realitas (keberadaan, alam semesta) sebagai suatu keseluruhan; 
(2) studi tentang yang-ada dan bukan tentang yang-ada dalam bentuk suatu keberadaan particular (barang, objek, entitas, aktivitas); 
(3) studi tentang ciri-ciri alam semesta yang sangat umum, bersifat tetap, dan mencakup: eksistensi, perubahan, waktu, hubungan sebab-akibat, tempat, substansi, identitas, keunikan, perbedaan, kesatuan, keanekaan, kesamaan, ketunggalan; 
(4) studi tentang realitas akhir-realitas sebagaimana terbentuk dalam dirinya sendiri yang terpisah dari tampakan-tampakan yang bersifat ilusif yang disajikan dalam persepsi kita; 
(5) studi tentang dasar (prinsip, alasan, sumber, sebab) eksistensi segala sesuatu yang mendasari, serta penuh dalam dirinya sendiri, yang tidak tergantung dan yang sepenuhnya menentukan sendiri, yang justru menjadi dasar bagi eksistensi yang lain; 
(6) studi tentang suatu realitas transenden yang merupakan sebab (sumber) semua eksistensi; 
(7) studi tentang segala sesuatu yang bersifat rohani (gaib, adikodrati, supranatural, immaterial) dan yang tidak dapat diterangkan dengan metode-metode penjelasan yang ditemukan dalam ilmu-ilmu alam; 
(8) studi tentang apa yang berdasarkan kodratnya harus ada dan tidak dapat menjadi selain dari apa adanya; 
(9) studi kritis terhadap asumsi-asumsi (praduga-praduga, keyakinan-keyakinan dasar) yang mendasari, yang digunakan oleh sistem-sistem pengetahuan kita dalam pernyataannya tentang apa yang nyata. 


Pengertian Metafisika Menurut Beberapa Tokoh

a. Aristoteles
Metafisika adalah cabang filsafat yang mengkaji yang-ada sebagai yang-ada
b. Anton Baker
Metafisika adalah cabang filsafat yang menyelidiki dan menggelar gambaran umum tentang struktur realitas yang berlaku mutlak dan umum.
c. Frederick Sontag
Metafisika adalah filsafat pokok yang menelaah prinsip pertama
d. Van Peursen
Metafisika adalah filsafat yang memusatkan perhatian pada pertanyaan mengenai akar yang terdalam yang mendasari yang ada.
e. Michael J. Loux
Metafisika adalah ilmu tentang kategori.

Secara umum, metafisika adalah pembahasan falsafat yg komprehensif mengenai seluruh realitas atau segala sesuatu yang ada.

Pembagian metafisika

Metafisika terbagi atas metafisika umum (ontologi) dan metafisika khusus yang terdiri dari kosmologi, teologi metafisik, dan filsafat antropologi.

1. Metafisika Umum (Ontologi)
Ontologi membahas segala sesuatu ‘yang ada’ secara menyeluruh dengan cara memisahkan eksistensi dari penampilann eksistensi itu.
Teori ontologis
a. idealisme
ada sesungguhnya berada di dunia ide, yg tampak nyata dalam alam indrawi hanyalah bayangan dr yang sesungguhnya.
b. Materialisme
Teori ini menolak hal yg tak terlihat. Namun yang sesungguhnya adalah yg keberadaannya semata-mata material.
c. Dualisme
Dualisme adalah tipe fundamental substansi adalah materi (secara fisis) dan mental (tdk kelihatan scr fisis). Hrs dibedakan dg monisme dan pluralisme (àteori ttg jumlah substansi).

2. Metafisika Khusus (Teologi metafisik)
Di dalam metafisika khusus ada beberapa argumen, yaitu:
         Argumen kosmologis: setiap akibat pasti punya sebab. Dunia (kosmos) adalah akibat. Penyebab adanya dunia ialah Tuhan.
  Argumen teleologis: Segala sesuatu ada tujuannya. Seluruh realitas tidak terjadi dengan sendirinya. Pengatur tujuan adalah Tuhan.
  Argumen moral, yaitu manusia bermoral karena dapat membedakan yang baik dan buruk. Dasar dan sumber moralitas adalah Allah.
   Filsafat Stoa: panteistis, yaitu segala sesuatu dijadikan oleh kekuatan ilahi/kekuatan alam. Spinoza melihat segala sesuatu yang ada adalah Allah. Skeptisisme sebaliknya meragukan adanya Allah.
   David Hume: Tidak ada bukti yang benar-benar sahih yang membuktikan Allah ada. Hume menolak Allah dan kebenaran agama.
   Feuerbach: religi tercipta oleh hakekat manusia sendiri, yakni egoisme.
  L. Feuerbach: religi tercipta oleh hakikat manusia sendiri. Allah adalah gambaran keinginan manusia. Allah tak lain dari apa yang diinginkan manusia.
   F. Nietzche: Konsep Allah dalam agama kristen adalah buruk, karena Allah dianggap sbg Allah yang lemah. Ia berkesimpulan Allah itu sudah mati.
 Sigmund Freund: tiga fungsi Allah yang utama, yaitu penguasa alam, agama mendamaikan manusia dengan nasibnya yg mengerikan, dan Allah menjaga agar ketentuan/peraturan budaya dilaksanakan.


II Aksiologi

Definisi Aksiologi

Aksiologi berasal dari kata axios (nilai) dan logos (Ilmu) jadi Aksiologi adalah cabang filsafat yang mempertanyakan bagaimana manusia menggunakan ilmunya dan aksiologi adalah ilmu yang membahas tujuan ilmu pengetahuan itu sendiri.
Aksiologi merupakan kajian tentang kegunaan ilmu pengetahuan untuk kehidupan manusia, nilai-nilai, khususnya estetika.
Aksiologi merupakan bagian dari filsafat mengenai baik dan buruk,benar dan salah serta cara dan tujuan dari perbuatan manusia. Aksiologi merumuskan suatu teori yang konsisten tentang perilaku etis. Aksiologi juga memberikan jawaban untuk apa pengetahuan berupa ilmu yang dipergunakan. Nilai dalam aksiologi yang dimaksud adalah sesuatu yang dimiliki manusia untuk melakukan berbagai pertimbangan mengenai apa yang dinillai.


Fakta dan Nilai

  • Fakta
Fakta adalah sesuatu yang ada secara nyata sementara nilai adalah sesuatu yang berlaku,mengikat dan mengimbau kita. Nilai berperan dalam suasana apresiasi sementara fakta daat dilukiskan secara objektif. Perlu diingat bahwa fakta selalu mendahului nilai. Nilai memiliki ciri yaitu nilai berkaitan dengan subjek, nilai tampil dalam konteks praktis, dan nilai menyangkut sifat yang ditambah oleh subyek pada sifat yang dimiliki objek. 

  • Nilai Moral
Nilai dibagi menjadi 4 bagian yaitu :
a. Nilai kesenangan dan ketidaksenangan
b. Nilai-nilai vitalitas yaitu perasaan halus,kasar, luhur, dan terikat oleh inderawi
c. Nilai rohani  yaitu nilai estetis bagus jelek, benar salah dan tidak terikat pada inderawi
d. Nilai religius yang menyangkut objek absolut.

Sedangkan ciri-ciri nilai moral adalah yang pertama, berkaitan dengan tanggung jawab sebagai manusia. Kedua, berkaitan dengan hati nurani. Ketiga, mewajibkan,. Keempat, bersifat formalyaitu tak ada nilai moral yang nurni yang terpisah dari nilai lain.Nilai lahir tidak ada untuk dirinya sendiri. Jadi nilai bukan merupakan benda atau unsur dari benda melainkan sifat yang dimiliki objek.

Macam-macam Aksiologi

1. Etika (Filsafat Etika)
Etika mempelajari tentang prinsip dan konsep  yang melandasi penilaian dan perilaku manusia. Etika digunakan untuk membedakan hal,perbuatan atau manusia lainnya. Sebagai filsafat etika memuat pendapat,norma dan istilah moral.

2. Filsafat Estetika (Filsafat keindahan)
Estetika mempelajari tentang prinsip yang melandasi penilaian atas berbagai bentuk seni, apa tujuan, peranan rasa dalam pertimbangan estetika, dan lain-lain.


Kategori Dasar Aksiologi

a. Teori Nilai Intuituf
Nilai ditemukan melalui intuisi karena ada tatanan moral yang bersifat baku. Nilai eksia sebagai piranti yang menyatu dalam hubugan antar objek dan validitas bergantung pada perilaku manusia

b. Teori Nilai Rasionalis
Nilai sebagai hasil dari penalaran manusia, jadi dengan nalar atau peran Tuhan nilai ultimo,objektif dan absolut yang seharusnya mengarahkan perilaku.

c. Teori Nilai Alamiah
Diciptakan manusia bersama dengan kebutuhan dan hasrat yang dialaminya. Nilai yaitu yang diciptakan, dipakai, dan diuji untuk melayani tujuan membimbing perilaku manusia.

d. Teori Nilai Emotif
Konsep moral dan etika bukanlah keputusan faktual melainkan hanya ekspresi emosi dan tingkah laku. Nilai tidak lebih dari suatu opini yang tidak bisa diverifikasi.  


Obyektivitas dan Subyektivitas Nilai

Terkadang suatu nilai bisa bersifat subyektif dan bisa juga bersifat obyektif. Nilai bersifat obyektif apabila nilai terlepas atau tidak tergantung oleh subyek,dan tolok ukur suatu gagasan terletak pada obyeknya, kebenaran tergantung pada obyektivitas fakta. Namun sebaliknya, nilai dapat bersifat subyektif apabila subyek berperan dalam memberi penilaian dan tolok ukurnya adalah kesadaran manusia. Nilai yang bersifat subyektif selalu memerhatikan berbagai macam pandangan dari akal manusia.


Peranan Nilai

a. Nilai merupakan objek yang sejati bagi sebuah tindakan atau perilaku
b. Nilai mengarahkan manusia dalam membentuk diri melalui tindakan
c. Menata hubungan sosial masyarakat
d. Memperkuat identitas sebagai manusia



Sumber materi :
§  Buku Pembelajaran Filsafat KBK Blok filsafat Universitas Tarumanagara
§  Meteri Perkuliahan KBK filsafat media powerpoint Universitas Tarumanagara
§  www.perkuliahan-perkuliahan.blogspot.com

6 comments: