Pada pertemuan kesepuluh ini saya akan post materi mengenai eksistensialisme menurut Kiergaard. Semoga bermanfaat yaaa
EKSISTENSIALISME
MENURUT KIERKEGAARD
Etimologis yaitu ex
berarti keluar, sistentia (sistere)berarti berdiri. Manusia
bereksistensi sama dengan manusia baru menemukan diri sebagai aku
dengan keluar dari dirinya. Pusat diriku terletak di luar diriku. Ia menemukan
pribadinya dengan seolah-olah keluar dari dirinya sendiri
dan menyibukkan diri dengan apa yang diluar dirinya. Hanya manusialah
bereksistensi.
Beberapa tokoh
filsafat yg menganut gaya eksistensialisme, antara lain: Kierkegaard, Edmund
Husserl, Martin Heidegger, Gabriel Marcel, Jean Paul Sartre.
Ciri-ciri
eksistensialisme
Motif pokok adalah
eksistensi, cara manusia berada. Hanya manusia bereksistensi.
Bereksistensi
harus diartikan secara dinamis. Bereksistensi berarti menciptakan diri secara
aktif, berbuat, menjadi, merencanakan.
Manusia dipandang
terbuka, belum selesai. Manusia terikat pada dunia sekitarnya, khususnya pada
sesamanya.
Memberi penekanan
pada pengalaman konkrit.
Pokok-pokok ajaran
Kierkegaard
Ada tiga cara
bereksistensi, tiga sikap terhadap hidup, yaitu:
1. Sikap
estetis: Merengguh sebanyak mungkin kenikmatan, yang dikuasai oleh
perasaan. Cara hidup yang amat bebas. Manusia harus memilih hidup terus
dengan kenikmatan atau meloncat ke tingkat lebih tinggi lewat pilihan
bebas.
2. Sikap
etis: Sikap menerima kaidah moral, suara hati dan memberi arah
pada hidupnya. Ciri khasnya menerima ikatan perkawinan. Manusia sudah
mengakui kelemahannya, tapi belum melihat cara mengatasinya. Bila ia
mengakui butuh pertolongan dari atas, maka ia loncat ke sikap hidup
religius.
3. Sikap
religius: Berhadapan dengan Tuhan, manusia sendirian.
Karena manusia religius percaya pada Allah, maka Allah memperlihatkan
diriNya pada manusia. Percaya model A ialah Allah hadir dimana-mana. Yang sukar
adalah percaya model B: percaya bahwa Allah menerima wajah manusiawi dalam
Yesus agar bisa berjumpa dengan Dia. Kita percaya model B, bila kita
percaya bahwa kita yang lahir dalam waktu bisa menjadi abadi. Kita
bisa menjadi seperti yang kita percayai.
Manusia menjadi
seperti yang dipercayainya
Pernyataan
Parmenides hingga Hegel: ‘Berpikir sama dengan berada’ ditolak oleh
Kierkegaard, karena menurutnya ‘percaya itu sama dengan menjadi’. Disini
dan kini manusia percaya dan menentukan bagaimana dia akan ada
secara abadi. Manusia memilih eksistensinya entah sebagai penonton yang
pasif, atau sebagai pemain/individu yang menentukan sendiri eksistensinya
dengan mengisi kebebasannya.
Subyektivitas dan
eksistensi sebagai tugas
Eksistensi manusia
bukan sekadar suatu fakta, tapi lebih dari itu. Eksistensi manusia
adalah tugas, yang harus dijalani dengan kesejatian sehingga orag
tidak tampil dengan semu. Bila eksistensi suatu tugas, ia harus dihayati
sebagai suatu yang etis dan religius. Eksistensi sebagai tugas
disertai oleh tanggungjawab. Tidak seperti berada dalam massa, eksistensi
sejati memungkinkan individu memilih dan mengambil keputusan sendiri. Untuk
itulah Kierkegaard menganggap subyektivitas dan eksistensi sejati itu suatu
tugas.
EKSISTENSIALISME
MENURUT JEAN PAUL SARTRE
Bagi
Sartre, manusia mengada dengan kesadaran sebagai irinya sendiri.
Keberadaan manusia berbeda dengan keberadaan benda lain yang tidak punya
kesadaran. Untuk manusia eksistensi adalah keterbukaan, beda dengan benda lain
yang keberadaannya sekaligus berarti esensinya. Bagi manusia
eksistensi mendahului esensi. Asas pertama untuk memahami manusia harus mendekatinya
sebagai subjektivitas. Apapun makna yang diberikan pada eksistensinya, manusia
sendirilah yang bertanggungjawab. Tanggungjawab yg menjadi beban
kita jauh lebih besar dr sekedar tanggungjawab thdp diri
kita sendiri.
Beberapa kenyataan
(kefaktaan) yang mengurangi penghanyatan kebebasan:
1) Tempat
kita berada: situasi yang memberi struktur pada kita, tapi juga kita beri
struktur.
2) Masa
lalu: tidak mungkin meniadakannya karena masa lampau menjadikan kita
sebagaimana kita sekarang ini.
3) Lingkungan
sekitar (Umwelt)
4) Kenyataan
adanya sesama manusia dengan eksistensinya sendiri.
5) Maut:
tidak bisa ditunggu saat tibanya, walaupun pasti akan tiba.
Ketubuhan manusia
Dalam eksistensi
manusia, kehadiran selalu menjelama sebagai wujud yang bertubuh. Tubuh
mengukuhkan kehadiran manusia. Tubuh sebagai pusat orientasi tidak
bisa dipandang sebagai alat sematamata,tapi mengukuhkan kehadiran kita sebagai
eksistensi.
Komunikasi dan
cinta
Komunikasi adalah
suatu hal yang apriori tak mungkin tanpa adanya sengketa, karena setiap kali
orang menemui orang lain pada akhirnya akan terjadi saling objektifikasi, yang
seorg seolah-olah membekukan orang lain. Terjadi saling pembekuan
sehingga masing-masing jadi objek. Cinta merupakan bentuk hubungan
keinginan saling memiliki (objek cinta). Akhirnya cinta bersifat sengketa
karrna objektifikasi yang tak terhindarkan.
Sumber : media powerpoint KBK Blok Filsafat Universitas Tarumanagara
Picture source
: www.flickr.com


No comments:
Post a Comment