Monday, 6 October 2014

Blok Filsafat 10th Meet on October 3rd 2014




Pada pertemuan kesepuluh ini saya akan post materi mengenai eksistensialisme menurut Kiergaard. Semoga bermanfaat yaaa


 EKSISTENSIALISME MENURUT KIERKEGAARD




















Etimologis yaitu ex berarti keluar, sistentia (sistere)berarti berdiri. Manusia bereksistensi  sama dengan manusia baru menemukan diri sebagai aku dengan keluar dari dirinya. Pusat diriku terletak di luar diriku. Ia menemukan pribadinya dengan  seolah-olah  keluar dari dirinya sendiri dan menyibukkan diri dengan apa yang diluar dirinya. Hanya manusialah bereksistensi.

Beberapa tokoh filsafat yg menganut gaya eksistensialisme, antara lain: Kierkegaard, Edmund Husserl, Martin Heidegger, Gabriel Marcel, Jean Paul Sartre.

Ciri-ciri eksistensialisme
Motif pokok adalah eksistensi, cara manusia berada. Hanya manusia bereksistensi.
Bereksistensi harus diartikan secara dinamis. Bereksistensi berarti menciptakan diri secara aktif, berbuat, menjadi, merencanakan.
Manusia dipandang terbuka, belum selesai. Manusia terikat pada dunia sekitarnya, khususnya pada sesamanya.
Memberi penekanan pada pengalaman konkrit.

Pokok-pokok ajaran Kierkegaard
Ada tiga cara bereksistensi,  tiga sikap terhadap hidup, yaitu:
1.    Sikap estetis: Merengguh sebanyak mungkin kenikmatan, yang dikuasai oleh perasaan. Cara hidup yang amat bebas. Manusia harus memilih hidup terus dengan kenikmatan atau meloncat ke tingkat lebih tinggi lewat pilihan bebas.
2.    Sikap etis: Sikap menerima kaidah moral, suara hati dan memberi arah pada hidupnya. Ciri khasnya menerima ikatan perkawinan. Manusia sudah mengakui kelemahannya, tapi belum melihat cara mengatasinya. Bila ia mengakui butuh pertolongan dari atas, maka ia loncat ke sikap hidup religius.
3.    Sikap religius: Berhadapan dengan Tuhan, manusia sendirian. Karena manusia religius percaya pada Allah, maka Allah memperlihatkan diriNya pada manusia. Percaya model A ialah Allah hadir dimana-mana. Yang sukar adalah percaya model B: percaya bahwa Allah menerima wajah manusiawi dalam Yesus agar bisa berjumpa dengan Dia. Kita percaya model B, bila kita percaya bahwa kita yang lahir dalam waktu bisa menjadi abadi. Kita bisa menjadi seperti yang kita percayai.

Manusia menjadi seperti yang dipercayainya
Pernyataan Parmenides hingga Hegel: ‘Berpikir sama dengan berada’ ditolak oleh Kierkegaard, karena menurutnya ‘percaya itu sama dengan menjadi’. Disini dan kini manusia percaya dan menentukan bagaimana dia akan ada secara abadi. Manusia memilih eksistensinya entah sebagai penonton yang pasif, atau sebagai pemain/individu yang menentukan sendiri eksistensinya dengan mengisi kebebasannya.

Subyektivitas dan eksistensi sebagai tugas
Eksistensi manusia bukan sekadar suatu fakta, tapi lebih dari itu. Eksistensi manusia adalah tugas, yang harus dijalani dengan kesejatian sehingga orag tidak tampil dengan semu. Bila eksistensi suatu tugas, ia harus dihayati sebagai suatu yang etis dan religius. Eksistensi sebagai tugas disertai oleh tanggungjawab. Tidak seperti berada dalam massa, eksistensi sejati memungkinkan individu memilih dan mengambil keputusan sendiri. Untuk itulah Kierkegaard menganggap subyektivitas dan eksistensi sejati itu suatu tugas.

 EKSISTENSIALISME MENURUT JEAN PAUL SARTRE




   










Bagi Sartre, manusia mengada dengan kesadaran sebagai irinya sendiri. Keberadaan manusia berbeda dengan keberadaan benda lain yang tidak punya kesadaran. Untuk manusia eksistensi adalah keterbukaan, beda dengan benda lain yang keberadaannya sekaligus berarti esensinya.  Bagi manusia eksistensi mendahului esensi. Asas pertama untuk memahami manusia harus mendekatinya sebagai subjektivitas. Apapun makna yang diberikan pada eksistensinya, manusia sendirilah yang bertanggungjawab. Tanggungjawab yg menjadi  beban kita jauh lebih besar  dr sekedar tanggungjawab  thdp diri kita sendiri.

Beberapa kenyataan (kefaktaan) yang mengurangi penghanyatan kebebasan:
1)    Tempat kita berada: situasi yang memberi struktur pada kita, tapi juga kita beri struktur.
2)    Masa lalu: tidak mungkin meniadakannya karena masa lampau menjadikan kita sebagaimana kita sekarang ini.
3)    Lingkungan sekitar (Umwelt)
4)    Kenyataan adanya sesama manusia dengan eksistensinya sendiri.
5)    Maut: tidak bisa ditunggu saat tibanya, walaupun pasti akan tiba.

Ketubuhan manusia
Dalam eksistensi manusia, kehadiran selalu menjelama sebagai wujud yang bertubuh. Tubuh mengukuhkan kehadiran manusia. Tubuh sebagai  pusat orientasi tidak bisa dipandang sebagai alat sematamata,tapi mengukuhkan kehadiran kita sebagai eksistensi.

Komunikasi dan cinta
Komunikasi  adalah suatu hal yang apriori tak mungkin tanpa adanya sengketa, karena setiap kali orang menemui orang lain pada akhirnya akan terjadi saling objektifikasi, yang seorg seolah-olah membekukan orang lain.  Terjadi saling pembekuan sehingga masing-masing jadi objek. Cinta merupakan  bentuk hubungan keinginan saling memiliki (objek cinta). Akhirnya cinta bersifat sengketa karrna objektifikasi yang tak terhindarkan.

Sumber : media powerpoint KBK Blok Filsafat Universitas Tarumanagara 

Picture source : www.flickr.com
                       www.greatthoughtstreasury.com
                       www.memo.fr

No comments:

Post a Comment