Thursday, 25 September 2014

Blok Filsafat 6th Meet on September 23th 2014

Haloo everybodyy me again! Saya kali ini akan menyampaikan materi perkuliahan saya pada pertemuan ke 6 mengenai Etika dan Moral dan Filsafat Manusia, kurang dan lebihnya mohon dimaafkan. Enjoy!;)

Etika dan Moral

Pengertian Etika

Etika secara etimologis berasal dari bahasa Yunani yaitu Ethos yang berarti watak. Sedangkan moral berasal dari kata Latin Mos berarti tunggal,moris berarti jamak artinya kebiasaan. Jadi etika atau moral dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai kesusilaan. Obyek material etika adalah tingkah laku. Obyek formalnya adalah kebaikan dan keburukan. 
Etika menurut Bertens adalah nilai dan norma moral yang menjadi pegangan bagi seseorang atau kelompok dalam mengatur tingkah lakunya.

Etika Perangai
Adat istiadat hidup bermasyarakat dalam keadaan dan waktu tertentu
Contoh: perkawinan,pergaulan muda mudi dsb

Etika Moral
Berkenaan dengan keniasaan perilaku baik dan benar berdasarkan kodrat manusia
Contoh: berkata jujur,menyantuni anak yatim dsb
Arti Etika 
Etika sebagai Ilmu
Etika sebagai kode etik
Etika sebagai sistem nilai

Obyek material etika
Suatu hal yang dijadikan sasaran pemikiran,suatu hal yang diselidiki,dipelajari yang bersifat konkret atau abstrak. Yaitu tingkah laku atau perbuatan

Objek formal etika
Cara memandang yang dilakukan peneliti terhadap objek materialnya serta prinsip yang digunakannya. Yaitu kebaikan dan keburukan,bermoral atau tak bermoral,dsb

Etika sebagai cabang filsafat
-Etika merupakan cabang fiksafat yang mengenakan refleksi dan metode tugas manusia dalam upaya menggali nilai moral dan menerapkan di kehidupan konkret
-Sebagai ilmu etika mencari kebenaran sebagai filsafat etika mencari keterangan

Etika berdasarkan kajian ilmu
-Etika Normatif 
-Etika Fenomenologis

Tujuan belajar etika 
Untuk menyamakan persepsi tentang penilaian perbuatan baik dan buruk dalam ruang dan waktu
Sebagai ilmu etika bersifat kritis dan metodis
Sistematika Etika

Etika Deskriptif
-Membahas apa yang dipandangnya
-Melukiskan tingkah laku moral dalam arti luas
-Mempelajari moralitas yang terdapat pada individu dan kebudayaan atau subkultur tertentu

Etika Normatif
-Membicarakan tentang apa yang seharusnya dilakukan
-Mengenai pelbagai norma yang menuntun tingkah laku manusia
-Tidak deskriptif melainkam perspektif,menentukam benar tidaknya tingkah laku atau anggapan-anggapan normal.

Metaetika
Meta dalam bahasa Yunani berarti melebihi. Metaetika membahas ucapan ucapan secara langsung.

Etika Umum
Mempertanyakan prinsip-prinsip dasar yang berlaku bagi setiap tindakan manusia.

Etika Khusus
Membahas prinsip-prinsip moral dasar dalam hubungan dengan kewajiban manusia dalam pelbagai lingkup kehidupannya. Etika khusus dibagi menjadi 2 bagian
a. Etika individual: menyangkut kewajiban dan sikap manusia terhadap dirinya sendiri.
b. Etika sosial: membahas mengenai kewajiban,sikap dan perilaku manusia.

Etika Profesi
Etika sosial yang menyangkut hubungan antar manusia dalam satu lingkup profesi dan masyarakat pengguna profesi tersebut.
Ciri:
-Adanya pengetahuan khusus
-Adanya kaidah dan standar moral yang sangat tinggi
-Mengabdi pada kepentingan masyarakat
-Ada izin khusus untuk menjalankan suatu profesi
-Menjadi anggota dari suatu profesi
Prinsip:
-Tanggung jawab: terhadap pelaksanaan pekerjaan terhadap hasil
-Keadilan: memberikan kepada siapa saja apa yang menjadi hasil
-Otonomi: menuntut agar setiap kaum profesionalis memiliki dan diberi kebebasan dalam menjalankan Profesinya

Kode etik
Yaitu norma atau azas yang diterima oleh suatu kelompok tertentu sebagai landasan tingkah laku sehari-hari di masyarakat maupun di tempat kerja.
Tujuan :
-Menjunjung tinggi martabat profesi
-Untuk menjaga dan memelihara kesejahteraan para anggota profesi
-Meningkatkan pengabdian para anggota profesi
-Meningkatkan mutu profesi
-Meningkatkan mutu organisasi profesi
-Meningkatkan layanan di atas keuntungan pribadi
-Mempunyai organisasi profesional yang kuat
-Menentukan baku standarnya sendiri

Aliran Etika

-Eudemonisme: dalam bahasa Yunani eudaimon berarti roh atau semangat yang baik. Menekankan bahwa kebaikan tertinggi manusia ada di kebahagiaan secara umum baik
-Hedonisme: kebaikan manusia terletak dalam kenikmatan dan kesenangan yang menjadi tujuan hidup
-Egoisme: kesenangan dan kebaikan diri sendiri menjadi target usaha seseorang dan bukan kebaikan orang lain.
-Ultilitarisme: bentuk hedonisme yang digeneralisir
-Deontologisme: kewajiban yang didasarkan pada intuisi manusia tentang prinsip moral

Etika dan Etiket

Etika
-Menetapkan norma perbuatan
-Berlaku tidak bergantung pads sds tidaknya orang lain
-Bersifat absolut
Etiket
-Menetapkan cara melakukan perbuatan
-Berlaku hanya dalam pergaulan
-Bersifat relatif

Filsafat Manusia
Filsafat manusia menanyakam pertanyaan krusial tentang dirinya sendiri dan secara bertahap memberi jawaban bagi diri sendiri.

Manfaat belajar filsafat manusia
Manusia adalah makhluk yang mampu dan wajib menyelidiki arti yang dalam dari "yang ada" dan manusia bertaanggung jawab terhafap dirinya sendiri,sekurang kurangnya manusia harus mengenal dan mengerti diri sendiri secara mendalam agar dapat mengatur diri dalam hidup ini.

Kerelevanan filsafat manusia
-Dengan bertanya manusia mewujudkan hakikat kemanusiaannya
-Dengan mendalami manusia,mengenal dirinya lebih baik.
-Mengantar manusia semakin bertanggung jawab terhadap dirinya dan sesama

Metode filsafat manusia
Yaitu refleksi,analisa trensdental,dan sintesa
 Ada juga ekstensif,intensif dan kritis.

Objek filsafat manusia
Objek material: manusia
Objek formal: esensi manusia,strukturnya yang fundamental.

Tokoh filsafat manusia
-Max Scheler dan Heidegger
Mereka mengatakan bahwa tidak ada zaman,seperti zaman sekarang dimana manusia menjadi pertanyaan bagi dirinya sendiri atau menjadi problematik bagi dirinya.
-A. Heschel
A. Heschel mengatakan bahwa filsafat mempunyai perhatian terhadap manusia dalam totalitasnya,bukan dalam aspek ini atau itu.
-Augustinus
Aku menjadi masalah besar bagi diriku
-Adam Schaft
Karena kita adalah manusia yang akan mati dan kita tidak akan puas dengan perubahan formasi sosial namun kita juga ingin mengetahui persoalan pribadi.
-Albert Camus
Refleksi filosofis tentang manusia tumbuh dari pengalaman akan kehampaan,aliensi,rutimitas dan absurditas.

Yang dibahas di filsafat manusia:
-Mencari kekhasan manusia
-Manusia sebagai "ada di dunia"
-Evolusi
-Antar subyektivitas (sosialitas manusia)
-Manusia sebagai eksistensi bertubuh
-Transdensi
-Manusia sebagai roh
-Pengetahuan manusia
-Kebebasan
-Kesejarahan/historisitas
-Kebudayaan,sains dan teknologi
-Dimensi antropologi dari pekerjaan
-Manusia sebagai pribadi
-Kematian dan harapan

Sumber :
media powerpoint KBK Blok Filsafat Universitas Tarumanagara

Wednesday, 24 September 2014

Blok Filsafat 5th Meet On September 22th 2014


Pada perkuliahan saya hari kelima ini saya akan membahas mengenai Silogisme dan Kesesatan Pemikiran ( Fallacia) semoga apa yang saya post ini bermanfaat check it out:)

Silogisme
Adalah suatu simpulan dimana dari dua putusan (premis-premis) disimpulkan suatu putusan yang baru. prinsipnya bila premis benar maka simpulannya benar.

Silogisme Kategori

Adalah silogisme yang premis dan simpulannya adalah utusan kategoris (pernyataan tanpa syarat)
contoh : M-P Wanita dapat menstruasi
             S-M Jazlyn adalah wanita 
             S-P Jazlyn dapat menstruasi

Bila penalaran baik, silogisme memperlihatkan alasan dasarnya. 

Silogisme kategori tunggal mempunyai dua premis terdiri atas 3 term yaitu S, P, dan M.
Bentuk silogisme kategoris tunggal yaitu: 
-M adalah S dalam premis mayor dan P dalam premis minor harus sebagai penegasan,sedangkan premis mayor bersifat umum.
Contoh: 
M-P Setiap tumbuhan berfotosintesis
S-M Benalu adalah tumbuhan
S-P Jadi, benalu berfotosintesis
-M jadi P dslam premis mayor dan minor. Salah satu premis harus negatif. Dan premis mayor bersifat umum.
Contoh:
P-M Mie terbuat dari tepung
S-M Tahu bukan terbuat dari tepung
S-P Jadi, tahu bukan nasi

-M menjadi S dalam premis mayor dan minor. Premis minor harus berupa penegasan dan simpulannya bersifat partikular.

Contoh: 
M-P AC berguna untuk mendinginkan ruangan
M-S Ada AC yang rusak
S-P Jadi sebagian yang rusak itu untuk mendinginkan ruangan
-M adalah P dalam premis mayor dan S dalam premis minor. Premis minor harus berupa penegasan sedangkan simpulan bersifat partikular
Contoh :
P-M Anjing itu hewan
M-S Semua hewan tidak punya pikiran
S-P Jadi, sebagian yang tidak punya pikiran itu anjing.

Silogisme Kategoris Majemuk

Adalah bentuk silogisme yang premisnya sangat lengkap,lebih dari tiga premis.
Jenisnya :
1. Enthymema
Yaitu silogisme yang dalam lenalarannya tidak mengemukakan semua premis secara eksplisit. Salah satu premis dilampaui disebut jiga silogisme singkat. 
Contoh :
Jiwa manusia adalah rohani. Jadi tidak akan mati.
Lengkap:
Yang rohani itu tidak akan mati
Jiwa manusia adalah rohani
Maka,jiwa manusia tidak akan mati
2. Polisilogisme
Deretan silogisme yang simpulan silogisme yang satu menjadi premis untuk silogisme yang lainnya
Contoh :
Seseorang yang selalu mempertanyakan kebenaran suka berfikir kritis. Orang yang pintar selalu mempertanyakan kebenaran. Jadi,orang yang pintar suka berfikir kritis.
3. Sorites
Yaitu silogisme yang premisnya lebih dari dua. Putusan putusan dihubungkan satu sama lain sedemikian sehingga predikat dari putusan yang satu jadi subjek putusan berikutnya.
Contoh: 
Orang yang baik, suka menolong. Orang yang suka menolong,banyak temannya. Jadi,orang baik,banyak temannya.

Kesesatan dalam pemikiran (Fallacia)

Definisi

Fallacia adalah kesalahan pemikiran dalam logika bukan kesalahan fakta tapi kesalahan kesimpulan karena penalaran yang tidak sehat. 

Kesesatan formal

Pelanggaran terhadap kaidah logika. 
Contoh
Semua dosen pintar. Semua ikmuwan pintar. Jadi semua dosen adalah ilmuwan

Kesesatan Informal

Menyangkut kesesatan dalam bahasa. Misalnya kesesatan pilihan kata. Contohnya penempatan kata depan yang keliru, mengacau posisi subjek atau predikat, dan ungkapan yang keliru. 

Amfiboli

Pengertian asal kata ini memiliki kesejajaran dengan kata ambigu. Kesesatan ini menggunakan kalimat-kalimat yang dapat diinterpretasikan mengandung makna lebih dari satu. 
Contoh: Wakil Indonesia, Jusuf Kalla mengunjungi warga yang kutang gizi di wilayah Jakarta Barat

Prosodi

Timbul dari pemberian tekanan yang salah dalam pembicaraan
Contoh: Anda tidak boleh mengganggu istri tetangga anda

Kesesatan karena alasan salah 

Kesesatan ini terjadi ketika sebuah konklusi ditarik dari premis yang tidak relevan
Contoh :Tiara harus dipromosikan sebagai manajer
Sebagai harusnya menjadi

Kesesatan Presumsi

Muncul bila kebenatan dari konklusi yang seharusnya dibuktikan.
a. Kesesatan karena pernyataan yang mengundang pertanyaan 
Merupakan pengandaian tentang kebenaran dari proposisi yang harus dibuktikan
Contoh: komunisme adalah bentuk pemerintahan terbaik karena peduli terhadap kepentingan bersama.
b. Kesesatan karena menghindari persoalan
-Argumrntum ad hominem
Contoh: jangan percaya padanya,dia seorang pemulung
-Argumentum ad populum
Ditujukan kepada massa dengan cara menggugah perasaan agar mendukung argumen
- Argumentum ad misericodam
Timbul karena argumentasi dialihkan daribpersoalan ke rasa kasihan-
-Argumentum ad crumemam
Terjadi ketika argumentasi dialihkan dari persoalan sesungguhnya ke uang
-Argumentum ad verecundiam
Argumentasi dialihkan ke tradisi
-Argumentum ad ignorantiam
argumentasi didasarkan pada ketidaktahuan
-Argumentum ad auctoritatem
Timbul karena dukungan argumen dapat dari kewenangan
-Argumentum ad barculum
Terjadi karena ancaman
-Argumentum untuk kepentingan bersama
-Kesesatan non causa pro causa
Terjadi karena salah menentukan penyebabnya

Kesesatan presumsi 

A.Generalisasi tergesa gesa
B.Non sequitur 
C.Analogi palsu
D.Penalaran melingkar
E.Deduksi cacat 
F.Pikiran simplistis

Kesesatan retoris

1 Eufimisme
2. Penjelasan Retorik
3. Stereotipe
4. Innuedo
5. Loading question
6. Weaseler
7. Downplay
8. Lelucon atau sindiran
9. Hiperbola
10. Pengandaian bukti
11. Dilema semu


               
Sumber :

media powerpoint KBK Filsafat Universitas Tarumanagara 

Buku Pembelajaran KBK Filsafat Universitas Tarumanagara

Blok Filsafat 4th Meet on 19 September 2014 part II


Berhubung perkuliahan saya terbagi menjadi empat sesi, jadi dua sesi telah saya ost sebelumnya yaitu mengenai subyektivisme,Obyektvisme, Konfirmas,Inferensi dan Konstruksi teori. Nah kali ini saya akan melanjutkan materi mengenai Logika dan Critical thinking. Semoga bisa bermanfaat ya

Logika
Dalam bahasa Yunani, yaitu logikos yang berarti sesuatu yang diungkapkan atau diutarakan melalui bahasa. Logika yaitu cabang filsafat yang mempelajari, menyusun dan membahas asas atau aturan formal serta kriteria yang sahih bagi penalaran dan penyimpulan untuk mencapai kebenaran yang dapat dipertanggung jawabkan.

Obyek Logika

a. Obyek material
Logika adalah manusia itu sendiri
b. Objek Formal
Logika ialah kegiatan akal budi untuk melakukan penalaran yang tepat yang tampak melalui ungkapan pikiran melalui bahasa.

Manfaat belajar logika

1. Membantu berpikir kritis,rasional, dan metodis.
2. Meningkatkan kemampuan nalar
3. Mampu lebih mandiri
4. Menambah kecerdasan berfikir sehingga bisa menhindari kesesatan dalam menarik kesimpulan.

Sejarah Logika

Pertama digunakan istilah logika oleh Zeno dengan aliran stoisisme namun filsuf pertama yang menggunankannya adalah Aristoteles. Prinsip logika yang dikembangkan oleh Aristoteles tetap menjadi prinsip-prinsip logika modern. Tradisonalnya membahas definisi, konsep, dan term menurut struktur, susunan nuansa, seluk beluk penalaran agar mendapat kebenaran yang sesuai dengan kenyataan. 

Macam Logika
1. Logika Kodrati
Satu suasana saat akal budi bekerja menurut hukum logika secara spontan
2. Logika Ilmiah
Berusaha mempertajam akal budi manusia agar dapat bekerja leih teliti atau tepat sehingga kesesatan dapat dihindari.

Logika Formal
Yaitu logika tentang kebenaran bentuk. Disebut juga logika minor. Sebuah argumen dikatakan mempunyai kebenaran bentuk apabila konklusinya kita tarik secara logis dari premis dengan mengabaikan isi yang terkandung dalam argumen tersebut. Jika susunan premis tidak dapat dijadikan pangkal untuk menarik kesimulan yang logis maka yang harus diperhatikan adalah penyusunan pertanyaan yang menjadi premis atau dasar penyimpulan.

Logika Material
Yaitu logika yang membahas tentang kebenaran isi. Logika ini disebut logika mayor. Sebuah argumen dikatakan mempunyai kebenaran isi apabila pernyataan yang membentuk argumen tersebut sesuai dengan kenyataan.

Critical Thinking

Critical thinking atau yang disebut berpikir kritis adalah merasionalisasi kehidupan manusia secara hati hati mengamati proses berpikir sebagai dasar untuk mengklarifikasi dan memperbaiki pemahaman kita tentang sesuatu.

Karakteristik berpikir Kritis
a. Rasional, Reasonable, Reflektif 
berdasarkan alasan dan bukti bukti dan bukan keinginan pribadi.
b. Melibatkan Skeptism yang sehat dan Konstruktif
Tidak menerima atau menolak ide ide kecuali karena mengerti hal tersebut
c. Otonomi
Tidak mudah dimanipulasi dan berpikir dengan pikiran sendiri.
d. Kreatif
Menciptakan ide-ide orisinal dengan menghubungkan pemikiran dan konsep
e. Adil
Tidak bias atau berpihak
f. Dapat dipercaya dan dilakukan
Memutuskan tindakan yang akan dilakukan,membuat observasi yang dapat dipercaya,menegakan kesimpulan secara tepat dan mengatasi masalah dengan mengevaluasi kebijakan, tuntutan, dan tindakan.

5 Model berpikir kritis

T=otal Recall
H=abits
I=nquiry
N=ew ideas and Creativity
K=nowing how you think

Sekian post saya, semoga kita dapat memetik pembelajaraan yang berguna, terima kasih!

Sumber :

media powerpoint pembelajaran KBK Blok Filsafat Universitas Tarumanagara

Blok Filsafat 4th meet on September 19th 2014


Pada pertemuan keempat perkuliahan saya saya akan membahas mengenai Subyektivisme, obyektivisme dan Konfirmasi, Inferensi dan Konstruksi Teori. Semoga bermanfaat ya!

Subyektivisme

Subyektivisme adalah pengetahuan yang dipahami sebagai keyakinan yang dibuat oleh individu.
Ciri-ciri pendekatan Subyektivisme :
a. menggagas pengetahuan sebagai suatu keadaan mental yang khusus misalnya sejarah, kepercayaan, dll
b. Pengalaman subyektif sebagai titik tolak pengetahuan dari data inderawi diri sendiri
c. prinsip subyektif tentang alasan cuku karena pengalaman sifatnya pribadi.

Pendukung pandangan ini adalah :

  • Aristoteles, Palto Rene Descartes
  • Kaum Solipsisme
  • Kaum Realisme Epistemologis
  • Kaum Idealisme Epistemologis
1. Rene Descartes











Mengungkapkan Cogito ergo sum cogitans yang berarti 'saya berfikir maka saya adalah pengada yang berfikir'. Menurut descartes, berfikir tidak dimaksudkan secara eksklusif pada penalaran sja tetapi melihat,mendengar, merasa, dan kegiatan sadar lainnya masuk dalam kegiatan 'berfikir'. menurut Descartes, bahwa Tuhan Yang Maha Kuasa dapat memunculkan data indera dalam kesadaran. Descartes juga menolak sketisisme (sikap meragukan kebenaran)

2. Realisme Eistemologis 
Berpendapat bahwa kesadaran menghubungkan 'saya' dengan 'apa yang lain' dari diri saya.

3. idealisme Epistemologis
Kaum ini menyatakan bahwa setiap tindakan mengetahui akhir didalam suatu ude yang merupakan subyektif murni.

Dalam subyektivisme, kenyataan adanya bahasa selalu mengandaikan bahwa adanya pribadi atau subyek lain selain dirinya sendiri. Bahasa sebagai sarana komunikasi untuk menjalin hubungan dengan orang lain. Kesadaran akan diri sendiri bukan suatu intuisi langsung tentang diri dalam gagasan yang terpilih sebagaimana yang dipahami oleh Rene Descartes. Kesadaran akan diri sendiri merupakan hasil dari suatu proses bertahap melalui pengalaman pergulatan dengan dunia luar. Dalam kenyataan hidup diri sebagai subyek yang bukan hanya berfungsi sebagai penahu (knower) tetai juga sebagai pelaku (agen) tidak bisa mengandaikan adanya yang lain baik sebagai obyek pengetahuan dan kegiatannya maupun sebagai sesama subyek dalam dialog.

Obyektivisme
Obyektivisme adalah suatu pandangan yang menekankan bahwa butir-butir pengetahuan manusia dari soal yang sederhana sampai yang kompleks mempunyai sifat dan ciri yang melampaui keyakinan dan kesadaran individu. Obyektivisme merupakan pandangan bahwa obyek yang kita persepsikan melalui perantara indera kita itu ada dan bebas dari kesadaran manusia dan beranggapan pada tolok ukur suatu gagasan berada pada obyeknya. Pendukung pandangan ini adalah Popper,latatos, dan Marx.

Pandangan Obyektivisme
a. kebenaran itu independen terlepas dari pandangan subyektif
b. Kebenaran itu datang dari bukti yang faktual
c. kebenaran hanya bisa didaari dari pengalaman inderawi

Pengetahuan dalam pengertian Obyektivitas
a. sepenuhnya independen dari klaim seseorang untuk mengetahuinya
b. pengetahuan terlepas dari keyakinan sesorang
c. pengetahuan tanpa orang  yaitu ia adalah pengetahuan tanpa diketahui subjek (Menurut Karl R. Popper)

Sifat Obyektivisme
a. bersifat umum, berartiobyek yang sama dapat dipersepsikan oleh pengamat yang jumlahnya tak terbatas
b. bersifat permanen baik untuk dipersepsikan ataupun tidak

Para flsiuf Skolastik menganggap perlu untuk memperbaiki beberapa keyakinan harian kita. Untuk mempercayai kebenaran inderawi harus memenuhi syarat yaitu
1. obyek harus sesuai dengan jenis indera kita
2. organ indera harus normal dan sehat.
3. adanya medium

Obyek terdiri dari :
a. obyek khusus, yaitu data yang ditangkap hanya satu indera
b. obyek umum, yaitu data yang ditangkap oleh lebih dari satu indera.

Konfirmasi
 Secara etimologi konfirmasi berasal dari kata Confirmation dalam bahasa Inggris yang berarti penegasan dan memperkuat. Berkaitan dengan filsafat ilmu maka fungsi ilmu pengetahuan adalah menjelaskan,menegaskan apa yang didapatkan dari fakta.

Aspek Konfirmasi

a. Konfirmasi Kuantitatif
Untuk memastikan kebenaran dan ilmu pengetahuanmengemukakan aspek kuantitatif. Misalnya membuat penelitian dengan mengumpulkan sampel yang akhirnya membuat suatu kesimpulan yang bersifat umum.
b. Konfirmasi Kualitatif
ada kalanya ilmu pengetahuan dalam penelitian tidak bisa melaksanakan kuantitatif maka harus menjalankan konfirmasi kualitatif. Misalnya dalam penelitian mengadakan wawancara (interview)

Teori Konfirmasi
1. decision theory
Kepastian berdasarkan keputusan 'apakah hubungan antara hipotesis dengan fakta ada manfaat faktual?
2. estimation theory
menetapkan kepastian dengan memberi peluang benar salah melalui konsepprobabilitas, contohnya pada penelitian menggunakan statistika.
3. reliability theory
menetapkan kepastian dengan mencermati stabilitas fakta atau evidensi yang berubah ubah terhadap hipotesis

Inferensi
Inferensi berarti penyimpulan. Bisa berupa mengakui atau memungkiri suatu kesatuan antara dua pernyataan.

Jenis Inferensi
penarikan konklusi dapat dilakukan melalui deduktif atau induktif.
a. Deduktif
melalui deduktif ada dua jenis yaitu inferensi langsung dan tidak langsung
-langsung : penarikan kesimpulan hanya dari satu premis. premis ialah dasar pemikiran yang menjamin terbentuknya kesimpulan
-tidak langsung : penarikan kesimpulandengan menggunakan dua premis. Premis-premis merupakan proposisi yang digunakan untuk membuat konklusi atau kesimpulan.
 b. Induktif

Hukum Inferensi
1. Jika premis benar,kesimpulan benar
2. Jika premis salah,kesimpulan dapat salah dapat juga benar
3. Jika kesimpuan salah, premis juga salah
4. Jika kesimpulan benar, premis dapat benar maupun salah.

Konstruksi Teori

Yaitu model atau kerangka pikiran yang memaparkan kejadian alami atau sosial tertentu. Konstruksi teori dibangun dengan abstraksi generalisasi dan deduksi probabilistik dan deduksi apriori atau spekulatif. 

Model Konstruksi Teori
a. Korespondensi : kebenaran sesuatu dibuktikan dengan menemukan relevansi dengan yang lain
b. Koherensi : sesuatu dipandang benar bila sesuai dengan moral tertentu. digunakan dalam pendekatan fenomenologis. 
c. Pragmatis : konsep kebenaran didata menurut pola hubungan yang beragam, menyederhanakan yang kompleks. 

Sekian post saya mengenai subyektivisme dan obyektivisme konfirmasi, inferensi dan konstruksi teori semoga bisa bermanfaat ya!

Sumber :
Media powerpoint pembelajaran KBK Blok Filsafat Universitas Tarumanagara
http://en.wikipedia.org/wiki/Ren%C3%A9_Descartes

Tuesday, 23 September 2014

Blok filsafat 3rd Meet on 18th September 2014



Kali ini saya akan menulis sedikit materi perkuliahan saya hari ketiga yaitu tanggal 18 september 2014 mengenai Epistemologi dan Kebenaran. Semoga bisa bermanfaat ya!

Epistemologi


Definisi Epistemologi

Epistemologi (filsafat ilmu) adalah pengetahuan sistematik mengenai pengetahuan. Epistemologi merupakan salah satu objek kajian dalam filsafat, dalam pengembangannya menunjukkan bahwa epistemologi secara langsung berhubungan secara radikal (mendalam) dengan diri dan kehidupan manusia. Pokok kajian epistemologi akan sangat menonjol bila dikaitan dengan pembahasan mengenai hakekat epistemologi itu sendiri.Secara linguistic kata “Epistemologi” berasal dari bahasa Yunani yaitu: kata “Episteme” dengan arti pengetahuan dan kata “Logos” berarti teori, uraian, atau alasan. Epistemologi dapat diartikan sebagai teori tentang pengetahuan yang dalam bahasa Inggris dipergunakan istilah theory of knowledge.Istilah epistemologi secara etimologis diartikan sebagai teori pengetahuan yang benar dan dalam bahasa Indonesia lazim disebut filsafat pengetahuan. Secara terminologi epistemologi adalah teori mengenai hakikat ilmu pengetahuan atau ilmu filsafat tentang pengetahuan.

Metode-metode untuk memperoleh pengetahuan
a. Empirisme
Empirisme adalah suatu cara/metode dalam filsafat yang mendasarkan cara memperoleh pengetahuan dengan melalui pengalaman. John Locke, bapak empirisme Britania, mengatakan bahwa pada waktu manusia di lahirkan akalnya merupakan jenis catatan yang kosong (tabula rasa),dan di dalam buku catatan itulah dicatat pengalaman-pengalaman inderawi. Menurut Locke, seluruh sisa pengetahuan kita diperoleh dengan jalan menggunakan serta memperbandingkan ide-ide yang diperoleh dari penginderaan serta refleksi yang pertama-pertama dan sederhana tersebut.
Ia memandang akal sebagai sejenis tempat penampungan,yang secara pasif menerima hasil-hasil penginderaan tersebut. Ini berarti semua pengetahuan kita betapapun rumitnya dapat dilacak kembali sampai kepada pengalaman-pengalaman inderawi yang pertama-tama, yang dapat diibaratkan sebagai atom-atom yang menyusun objek-objek material. Apa yang tidak dapat atau tidak perlu di lacak kembali secara demikian itu bukanlah pengetahuan, atau setidak-tidaknya bukanlah pengetahuan mengenai hal-hal yang factual.

b. Rasionalisme
Rasionalisme berpendirian bahwa sumber pengetahuan terletak pada akal. Bukan karena rasionalisme mengingkari nilai pengalaman, melainkan pengalaman paling-paling dipandang sebagai sejenis perangsang bagi pikiran. Para penganut rasionalisme yakin bahwa kebenaran dan kesesatan terletak di dalam ide kita, dan bukannya di dalam diri barang sesuatu. Jika kebenaran mengandung makna mempunyai ide yang sesuai dengan atau menunjuk kepada kenyataan, maka kebenaran hanya dapat ada di dalam pikiran kita dan hanya dapat diperoleh dengan akal budi saja.

c. Fenomenalisme
Bapak Fenomenalisme adalah Immanuel Kant. Kant membuat uraian tentang pengalaman. Barang sesuatu sebagaimana terdapat dalam dirinya sendiri merangsang alat inderawi kita dan diterima oleh akal kita dalam bentuk-bentuk pengalaman dan disusun secara sistematis dengan jalan penalaran. Karena itu kita tidak pernah mempunyai pengetahuan tentang barang sesuatu seperti keadaannya sendiri, melainkan hanya tentang sesuatu seperti yang menampak kepada kita, artinya, pengetahuan tentang gejala (Phenomenon).
Bagi Kant para penganut empirisme benar bila berpendapat bahwa semua pengetahuan didasarkan pada pengalaman-meskipun benar hanya untuk sebagian. Tetapi para penganut rasionalisme juga benar, karena akal memaksakan bentuk-bentuknya sendiri terhadap barang sesuatu serta pengalaman.
d. Intusionisme
Menurut Bergson, intuisi adalah suatu sarana untuk mengetahui secara langsung dan seketika. Analisa, atau pengetahuan yang diperoleh dengan jalan pelukisan, tidak akan dapat menggantikan hasil pengenalan secara langsung dari pengetahuan intuitif.

Salah satu di antara unsur-unsur yang berharga dalam intuisionisme Bergson ialah, paham ini memungkinkan adanya suatu bentuk pengalaman di samping pengalaman yang dihayati oleh indera. Dengan demikian data yang dihasilkannya dapat merupakan bahan tambahan bagi pengetahuan di samping pengetahuan yang dihasilkan oleh penginderaan. Kant masih tetap benar dengan mengatakan bahwa pengetahuan didasarkan pada pengalaman, tetapi dengan demikian pengalaman harus meliputi baik pengalaman inderawi maupun pengalaman intuitif.

Hendaknya diingat, intusionisme tidak mengingkati nilai pengalaman inderawi yang biasa dan pengetahuan yang disimpulkan darinya. Intusionisme – setidak-tidaknya dalam beberapa bentuk-hanya mengatakan bahwa pengetahuan yang lengkap di peroleh melalui intuisi, sebagai lawan dari pengetahuan yang nisbi-yang meliputi sebagian saja-yang diberikan oleh analisis. Ada yang berpendirian bahwa apa yang diberikan oleh indera hanyalah apa yang menampak belaka, sebagai lawan dari apa yang diberikan oleh intuisi, yaitu kenyataan. Mereka mengatakan, barang sesuatu tidak pernah merupakan sesuatu seperti yang menampak kepada kita, dan hanya intuisilah yang dapat menyingkapkan kepada kita keadaanya yang senyatanya.

e. Dialektis
Yaitu tahap logika yang mengajarkan kaidah-kaidah dan metode penuturan serta analisis sistematik tentang ide-ide untuk mencapai apa yang terkandung dalam pandangan. Dalam kehidupan sehari-hari dialektika berarti kecakapan untuk melekukan perdebatan. Dalam teori pengetahuan ini merupakan bentuk pemikiran yang tidak tersusun dari satu pikiran tetapi pemikiran itu seperti dalam percakapan, bertolak paling kurang dua kutub

Sifat Epistemologi

Secara kritis, mempertanyakan/menguji cara kerja,pendekatan, kesimpulan yg ditarik dlm kegiatan kognitif manusia 
Secara normatif, menentukan tolok ukur/norma penalaran tt kebenaran pengetahuan
Secara evaluatif, menilai apakah suatu keyakinan,pendapat suatu teori pength dapat dipertanggungjawabkan dan dijamin kebenarannya secara logis dan akurat

 Dasar dan Sumber Pengetahuan

1. pengalaman manusia
2. ingatan (memory)
3. Penegasan tapa yang diobservasi (  
             kesaksian )
4. Minat dan rasa ingin tahu
5. Pikiran dan penalaran
6. Logika berpikir tepat dan logis
7. Bahasa ekspresi pemikiran manusia melalui
             ujaran / tulisan
8. Kebutuhan hidup manusia à mendorong
             terciptanya iptek

 Struktur Ilmu Pengetahuan

Adanya  2 kutub yaitu
A. kesadaran / subjek ( S ) berperan sebagai yg menyadari / mengetahui
B. objek (O) berperan sebagai yg disadari / diketahui
Hubungan antara  S dan O menghasilkan pengetahua n 

 Teori Kebenaran dalam pengetahuan

a.Teori kebenaran korespondensi
b.Teori kebenaran koherensi
c.Teori kebenaran pragmatik
d.Teori kebenaran konsensus
e.Teori kebenaran semantik

Kebenaran

Kebenaran sebagai sifat pengetahuan disebut kebenaran epistemologis. Lawan dari kebenaran adalah salah. Secara umum kebenaran biasanya dimengerti sebagai kesesuaian antara apa yang dipikirkan dan atau dinyatakan dengan kenyataan yang sesungguhnya. Dalam bahasa Yunani kebenaran adalah aletheia. 

Menurut Plato, bahwa kebenaran sebagai ketidaktersembunyian adanya itu tidak dapat dicaai manusia selama hidupnya di dunia ini. Sedangkan menurut Aristoteles, kebenaran lebih musatkan perhatian pada kualitas pernyataan yang dibuat oleh subyek ketika dirinya menegaskan suatu putusan entah secara afirmatif atau negatif. Dalam hal ini kebenaran dimengerti sebagai kesesuaian antara subyek dn objek yang diketahui.

Menurut kaum Positivisme logis bahwa kebenaran terdiri dari dua yaitu
a. kebenaran faktual
kebenaran faktual sebagai kebenaran yang menambah pengetahuan kita tentang semesta alam yang dapat kita alami secara inderawi
b. kebenaran nalar
kebenaran nalar adalah kebenaran yang bersifat tautalogis atau pengulangan gagasan dan tidak menambah pengetahuan baru tetapi dapat menjadi sarana yang berguna untuk memperoleh pengetahuan yang benar di dunia ini.

menurut Thomas Quinas kebenaran dibagi menjadi dua yaitu :
a. kebenaran Ontologis
yaitu kebenaran yang terdapat dalam kenyataan entah siritual atau material yang meskipun ada kemungkinan untuk diketahui.
b. kebenaran Logis
yaitu kebenaran yang terdapat dalam akal budi manusia dalam bentuk adanya kesesuaian antara akal budi dengan kenyataan.

Kedudukan Kebenaran
a. Dalam pandangan Platonis
lebih diletakkan dalam obyek atau kenyataan yang diketahui
b. Dalam pandangan Aridtotelian
Diletakkan dalam subyek yang diketahui

Sedangkan Kaum Eksistensial menyatakan bahwa kebenaran eksistensial merupakan apa yang secara pribadi berharga bagi subyek konkrit yang bersangkutan untuk dipegang teguh dengan penih kesetiaan.

Kesahihan dan kekeliruan
Kekeliruan adalah segala sesuatu yang menyangkut tindakan kognitif subyek penahu sedangkan kesalahan hasil dari tindakan tersebut. Kekeliruan muncul akibat kegagalan dalam mengidentifikasi bukti yang tepat. kekeliruan dapat dikarenakan gegabah dalam menegaskan keputusan tentang suatu masalah.


Sumber :

Buku Pembelajaran KBK Filsafat Blok Filsafat Universitas Tarumanagara

Media powerpoint kbk filsafat Universitas Tarumanagara

http://id.wikipedia.org/wiki/Epistemologi

http://filsafat.kompasiana.com/2011/05/16/epistemologi-364351.html





Monday, 22 September 2014

Blok Filsafat 2nd meet on September 16 September 2014


Pencabangan Filsafat

This is Ega again! Kali ini saya akan menyampaikan materi perkuliahan saya hari ke-2 mengenai pencabangan filsafat yaitu metafisika dan aksiologi. Selengkapnya, silakan dibaca ya, enjoy guys:)

I Metafisika

Definisi Metafisika

Secara etimologi, metafisika berarti meta (sesudah) dan physika  fisika, jadi metafisika adalah sesudah fisika. Aristoteles sendiri menyebut filsafat pertama (metafisika) dan filsafat kedua (fisika). Metafisika adalah pembahasan filsafati yang komprenhensif mengenai seluruh realita atau segala sesuatu yang ada.

Metafisika adalah suatu pembahasan filsafati yang komprehensif mengenai seluruh realitas atau tentang segala sesuatu yang ada. Ia bersangkut paut dengan pertanyaan mengenai hakekat 'yang-ada' yang terdalam. Menurut Bagus (2000: 624-625), metafisika memiliki beberapa pengertian, yakni: 

(1) kajian menyeluruh, koheren dan konsisten tentang realitas (keberadaan, alam semesta) sebagai suatu keseluruhan; 
(2) studi tentang yang-ada dan bukan tentang yang-ada dalam bentuk suatu keberadaan particular (barang, objek, entitas, aktivitas); 
(3) studi tentang ciri-ciri alam semesta yang sangat umum, bersifat tetap, dan mencakup: eksistensi, perubahan, waktu, hubungan sebab-akibat, tempat, substansi, identitas, keunikan, perbedaan, kesatuan, keanekaan, kesamaan, ketunggalan; 
(4) studi tentang realitas akhir-realitas sebagaimana terbentuk dalam dirinya sendiri yang terpisah dari tampakan-tampakan yang bersifat ilusif yang disajikan dalam persepsi kita; 
(5) studi tentang dasar (prinsip, alasan, sumber, sebab) eksistensi segala sesuatu yang mendasari, serta penuh dalam dirinya sendiri, yang tidak tergantung dan yang sepenuhnya menentukan sendiri, yang justru menjadi dasar bagi eksistensi yang lain; 
(6) studi tentang suatu realitas transenden yang merupakan sebab (sumber) semua eksistensi; 
(7) studi tentang segala sesuatu yang bersifat rohani (gaib, adikodrati, supranatural, immaterial) dan yang tidak dapat diterangkan dengan metode-metode penjelasan yang ditemukan dalam ilmu-ilmu alam; 
(8) studi tentang apa yang berdasarkan kodratnya harus ada dan tidak dapat menjadi selain dari apa adanya; 
(9) studi kritis terhadap asumsi-asumsi (praduga-praduga, keyakinan-keyakinan dasar) yang mendasari, yang digunakan oleh sistem-sistem pengetahuan kita dalam pernyataannya tentang apa yang nyata. 


Pengertian Metafisika Menurut Beberapa Tokoh

a. Aristoteles
Metafisika adalah cabang filsafat yang mengkaji yang-ada sebagai yang-ada
b. Anton Baker
Metafisika adalah cabang filsafat yang menyelidiki dan menggelar gambaran umum tentang struktur realitas yang berlaku mutlak dan umum.
c. Frederick Sontag
Metafisika adalah filsafat pokok yang menelaah prinsip pertama
d. Van Peursen
Metafisika adalah filsafat yang memusatkan perhatian pada pertanyaan mengenai akar yang terdalam yang mendasari yang ada.
e. Michael J. Loux
Metafisika adalah ilmu tentang kategori.

Secara umum, metafisika adalah pembahasan falsafat yg komprehensif mengenai seluruh realitas atau segala sesuatu yang ada.

Pembagian metafisika

Metafisika terbagi atas metafisika umum (ontologi) dan metafisika khusus yang terdiri dari kosmologi, teologi metafisik, dan filsafat antropologi.

1. Metafisika Umum (Ontologi)
Ontologi membahas segala sesuatu ‘yang ada’ secara menyeluruh dengan cara memisahkan eksistensi dari penampilann eksistensi itu.
Teori ontologis
a. idealisme
ada sesungguhnya berada di dunia ide, yg tampak nyata dalam alam indrawi hanyalah bayangan dr yang sesungguhnya.
b. Materialisme
Teori ini menolak hal yg tak terlihat. Namun yang sesungguhnya adalah yg keberadaannya semata-mata material.
c. Dualisme
Dualisme adalah tipe fundamental substansi adalah materi (secara fisis) dan mental (tdk kelihatan scr fisis). Hrs dibedakan dg monisme dan pluralisme (àteori ttg jumlah substansi).

2. Metafisika Khusus (Teologi metafisik)
Di dalam metafisika khusus ada beberapa argumen, yaitu:
         Argumen kosmologis: setiap akibat pasti punya sebab. Dunia (kosmos) adalah akibat. Penyebab adanya dunia ialah Tuhan.
  Argumen teleologis: Segala sesuatu ada tujuannya. Seluruh realitas tidak terjadi dengan sendirinya. Pengatur tujuan adalah Tuhan.
  Argumen moral, yaitu manusia bermoral karena dapat membedakan yang baik dan buruk. Dasar dan sumber moralitas adalah Allah.
   Filsafat Stoa: panteistis, yaitu segala sesuatu dijadikan oleh kekuatan ilahi/kekuatan alam. Spinoza melihat segala sesuatu yang ada adalah Allah. Skeptisisme sebaliknya meragukan adanya Allah.
   David Hume: Tidak ada bukti yang benar-benar sahih yang membuktikan Allah ada. Hume menolak Allah dan kebenaran agama.
   Feuerbach: religi tercipta oleh hakekat manusia sendiri, yakni egoisme.
  L. Feuerbach: religi tercipta oleh hakikat manusia sendiri. Allah adalah gambaran keinginan manusia. Allah tak lain dari apa yang diinginkan manusia.
   F. Nietzche: Konsep Allah dalam agama kristen adalah buruk, karena Allah dianggap sbg Allah yang lemah. Ia berkesimpulan Allah itu sudah mati.
 Sigmund Freund: tiga fungsi Allah yang utama, yaitu penguasa alam, agama mendamaikan manusia dengan nasibnya yg mengerikan, dan Allah menjaga agar ketentuan/peraturan budaya dilaksanakan.


II Aksiologi

Definisi Aksiologi

Aksiologi berasal dari kata axios (nilai) dan logos (Ilmu) jadi Aksiologi adalah cabang filsafat yang mempertanyakan bagaimana manusia menggunakan ilmunya dan aksiologi adalah ilmu yang membahas tujuan ilmu pengetahuan itu sendiri.
Aksiologi merupakan kajian tentang kegunaan ilmu pengetahuan untuk kehidupan manusia, nilai-nilai, khususnya estetika.
Aksiologi merupakan bagian dari filsafat mengenai baik dan buruk,benar dan salah serta cara dan tujuan dari perbuatan manusia. Aksiologi merumuskan suatu teori yang konsisten tentang perilaku etis. Aksiologi juga memberikan jawaban untuk apa pengetahuan berupa ilmu yang dipergunakan. Nilai dalam aksiologi yang dimaksud adalah sesuatu yang dimiliki manusia untuk melakukan berbagai pertimbangan mengenai apa yang dinillai.


Fakta dan Nilai

  • Fakta
Fakta adalah sesuatu yang ada secara nyata sementara nilai adalah sesuatu yang berlaku,mengikat dan mengimbau kita. Nilai berperan dalam suasana apresiasi sementara fakta daat dilukiskan secara objektif. Perlu diingat bahwa fakta selalu mendahului nilai. Nilai memiliki ciri yaitu nilai berkaitan dengan subjek, nilai tampil dalam konteks praktis, dan nilai menyangkut sifat yang ditambah oleh subyek pada sifat yang dimiliki objek. 

  • Nilai Moral
Nilai dibagi menjadi 4 bagian yaitu :
a. Nilai kesenangan dan ketidaksenangan
b. Nilai-nilai vitalitas yaitu perasaan halus,kasar, luhur, dan terikat oleh inderawi
c. Nilai rohani  yaitu nilai estetis bagus jelek, benar salah dan tidak terikat pada inderawi
d. Nilai religius yang menyangkut objek absolut.

Sedangkan ciri-ciri nilai moral adalah yang pertama, berkaitan dengan tanggung jawab sebagai manusia. Kedua, berkaitan dengan hati nurani. Ketiga, mewajibkan,. Keempat, bersifat formalyaitu tak ada nilai moral yang nurni yang terpisah dari nilai lain.Nilai lahir tidak ada untuk dirinya sendiri. Jadi nilai bukan merupakan benda atau unsur dari benda melainkan sifat yang dimiliki objek.

Macam-macam Aksiologi

1. Etika (Filsafat Etika)
Etika mempelajari tentang prinsip dan konsep  yang melandasi penilaian dan perilaku manusia. Etika digunakan untuk membedakan hal,perbuatan atau manusia lainnya. Sebagai filsafat etika memuat pendapat,norma dan istilah moral.

2. Filsafat Estetika (Filsafat keindahan)
Estetika mempelajari tentang prinsip yang melandasi penilaian atas berbagai bentuk seni, apa tujuan, peranan rasa dalam pertimbangan estetika, dan lain-lain.


Kategori Dasar Aksiologi

a. Teori Nilai Intuituf
Nilai ditemukan melalui intuisi karena ada tatanan moral yang bersifat baku. Nilai eksia sebagai piranti yang menyatu dalam hubugan antar objek dan validitas bergantung pada perilaku manusia

b. Teori Nilai Rasionalis
Nilai sebagai hasil dari penalaran manusia, jadi dengan nalar atau peran Tuhan nilai ultimo,objektif dan absolut yang seharusnya mengarahkan perilaku.

c. Teori Nilai Alamiah
Diciptakan manusia bersama dengan kebutuhan dan hasrat yang dialaminya. Nilai yaitu yang diciptakan, dipakai, dan diuji untuk melayani tujuan membimbing perilaku manusia.

d. Teori Nilai Emotif
Konsep moral dan etika bukanlah keputusan faktual melainkan hanya ekspresi emosi dan tingkah laku. Nilai tidak lebih dari suatu opini yang tidak bisa diverifikasi.  


Obyektivitas dan Subyektivitas Nilai

Terkadang suatu nilai bisa bersifat subyektif dan bisa juga bersifat obyektif. Nilai bersifat obyektif apabila nilai terlepas atau tidak tergantung oleh subyek,dan tolok ukur suatu gagasan terletak pada obyeknya, kebenaran tergantung pada obyektivitas fakta. Namun sebaliknya, nilai dapat bersifat subyektif apabila subyek berperan dalam memberi penilaian dan tolok ukurnya adalah kesadaran manusia. Nilai yang bersifat subyektif selalu memerhatikan berbagai macam pandangan dari akal manusia.


Peranan Nilai

a. Nilai merupakan objek yang sejati bagi sebuah tindakan atau perilaku
b. Nilai mengarahkan manusia dalam membentuk diri melalui tindakan
c. Menata hubungan sosial masyarakat
d. Memperkuat identitas sebagai manusia



Sumber materi :
§  Buku Pembelajaran Filsafat KBK Blok filsafat Universitas Tarumanagara
§  Meteri Perkuliahan KBK filsafat media powerpoint Universitas Tarumanagara
§  www.perkuliahan-perkuliahan.blogspot.com